EWRX7nXzSEi74YquoxxXqz848nPnhEfExVXrFUfM

Cari Blog Ini

Gambar tema oleh Igniel

Laporkan Penyalahgunaan

5 Tahun Pernikahan

Hari ini, Senin 18 April 2022 usia pernikahan kami tepat lima tahun. Akhir-akhir ini saya sering memutar lagu-lagu Tulus, bahkan saya sampai membeli beberapa lagunya di Itunes, seperti Hati-hati di Jalan, Cahaya dan Jangan cintai aku apa adanya. Lagu-lagu Tulus itu memang sangat tulus. 

Satu lagu yang paling berhubungan dengan keadaan saya hari ini dengan istri adalah Cahaya. Untuk menggambarkannya, berikut adalah potongan lirik Cahaya;

Ratusan hari ku mengenalmu
Ratusan alasan kamu berharga
Ratusan hari ku bersamamu
Ratusan alasan kamu cahaya

Semampuku kau akrab dengan senyum dan tawa
Semampuku tak lagi perlu kau takut cinta

Bila aku pegang kendali penuh pada cahaya
Aku pastikan jalanmu terang
Bila aku pegang kendali penuh pada cahaya
Aku pastikan jalanmu terang

Entah, ya. Kok rasanya memang seperti itu yang saya rasakan akhir-akhir ini. Kadang, saya merasa khawatir jika istri saya merasa tidak berharga bagiku.

Kok malah jadi begini, ya, tulisannya.

Mungkin sudah tak terhitung berapa ribu tangis yang pecah selama pernikahan ini, berapa sedih yang datang dan pergi, berapa marah yang meluap menenggelamkan diri, berapa masalah yang menyebabkan kita diam untuk beberapa saat. Namun itu sudah berlalu, toh hari ini kita tetap baik-baik saja dan bersama. 

Selain itu, jika kita mau kalkulasi secara matematis, lebih banyak kebahagiaan yang datang tak terduga, lebih banyak tawa yang memperlihatkan geraham kita, lebih banyak maaf yang terucap dengan kecup, lebih banyak maklum yang bersandar pada harap, lebih banyak senyum atas dasar cinta dan kasih sayang.

Kita punya segudang alasan untuk kembali dan saling mencintai. Kita selalu punya "sekali lagi" untuk selalu dicoba dan diharapkan kebaikannya. 

Sudah lah melankolisnya...

Pada akhirnya, saya kembali menyadari bahwa keluarga tidak hanya disadari oleh cinta dan kasih sayang saja, melainkan juga komitmen untuk merawatnya, menutupi lubang-lubang yang sempat bocor di sudut-sudut perasaan kita. Selain itu, tentu dengan modal paling besar, yaitu lillahi ta'ala

Lagi-lagi, saya ingat kutipan Syaikh Ibnu Athaillah yang lebih kurang bahwa "Sandarkan harapanmu pada sesuatu yang kuat (Allah ﷻ) jangan sandarkan kepada sesuatu yang lemah (dunia)" 

Gelombang besar hanyalah anggapan saja, sebaiknya kita memang tidak fokus pada gelombang itu, melainkan fokus untuk mengasah kemampuan kemudi kapal kita, kemampuan memahami cuaca, memahami angin dan getaran-getaran air. Kita hanya butuh menjadi Nami atau Jinbe untuk sesekali waktu. 

Sebagaimana doa yang diajarkan oleh Syaikh Abdul Qadir Jailani "Semoga engkau tak menghilangkan cobaan kepadaku, cukup kuatkan bahuku agar kuat menghadapi itu"

Jika gelombang reda dan angin menghadirkan ikan-ikan yang melimpah, kita tata dan benahi lagi kapal ini yang barangkali ada yang rusak terkena gelombang dan angin yang besar itu. Sambil tidak melupakan, bahwa di depan, kelak kita akan menghadapi gelombang itu lagi, bahkan jauh lebih besar. 

Menjadi suami, kadang saya juga merasa gagal; mulai dari tidak bisa memberikan kenyamanan kepada istri dan anak, tidak sering mengajak mereka jalan-jalan, tak mampu memberikan harta yang lebih banyak dan hal-hal remeh lainnya yang sering saya abaikan namun penting untuk dilaksanakan. Sekadar seremoni perayaan ulang tahun pernikahan misalnya. 


Hari ini saya mengajak istri dan anak untuk buka puasa bersama di salah satu rumah makan andalan kami, dekat dari rumah kontrakan dan harga juga tidak tergolong elite. Saya unggah jadi story whatsapp, ada yang ngechat "Sesimpel itu gawe bungahe bojo, dijajake" begitu tulis salah satu teman. 

Memang benar, sesimpel itu untuk membahagiakan keluarga, meskipun saya sering menganggap remeh, namun efeknya besar bagi keharmonisan sebuah rumah tangga. 

Terima kasih, untukmu yang cahaya. Terima kasih untuk usia dan hidup yang kamu relakan untuk membersamaiku yang biasa-biasa saja seperti ini. 

Kami sudah memulai membangun rumah, mohon doanya segera menjadi rumah yang baik bagi kami. Agar kami lebih sakinah, lebih ayem dalam menyusun dan menabung amal di dunia ini.  

Related Posts
Qowim Musthofa
Dosen IIQ An-Nur Yogyakarta Fakultas Ushuluddin Prodi Ilmu Hadis

Related Posts

Posting Komentar